Bukit Algoritma menyerupai Silicon Valley : Megaproyek Bernilai 18 Triliun

Di era Teknologi dan Industri 4.0 ini, banyak sekali negara-negara yang mulai atau telah berbondong-bondong menciptakan sebuah revolusi inovatif yang meliputi Sumber Daya Manusia (SDM), teknologi, dan industri.

Indonesia sendiri sedikitnya sudah menorehkan beberapa perusahaan yang menerapkan gagasan 4.0 ini. Yang pertama adalah perusahaan elektronika Schneider Electric di Batam, Kepulauan Riau dan perusahaan tambang Petrosea di Tabang, Kalimantan Timur.

Beberapa hari yang lalu, Manajemen PT Amarta Karya (Persero) dan Kiniku Bintang Raya KSO serta PT Bintang Raya Lokalestari telah menyepakati dan sekaligus menandatangani kontrak untuk bersama-sama membangun megaproyek yang bernama Bukit Algoritma.

Nah, yang menjadi pertanyaannya, apa itu Bukit Algoritma? Apakah proyek tersebut akan menjadi sebuah terobosan baru bagi sektor 4.0 di Indonesia? Atau hanya malah sebatas wacana belaka yang menghambur-hamburkan uang negara? Mari kita telisik dan analisis secara mendalam.

Bukit Algoritma adalah wacana megaproyek yang berlokasi di Cikidang dan Cibadak, Sukabumi, Jawa Barat. Proyek di atas lahan seluas 800 hektare ini ternyata diprediksi dapat memakan biaya sebesar 18 triliun untuk tahap awal pembangunan dalam kurun waktu tiga tahun mendatang.

Pembangunan proyek ini tentunya bertujuan untuk mengembangkan teknologi dan industri 4.0 serta memberdayakan sumber daya manusia di Indonesia.

Budiman Sudjatmiko selaku Komisaris PTPN V sekaligus Ketua Pelaksana Kiniku Bintang Raya, salah satu perusahaan yang akan ikut andil untuk menggarap proyek ini mengatakan bahwa Bukit Algoritma akan dibuat seperti Silicon Valley di Amerika Serikat yang merupakan sarang dari berbagai perusahaan teknologi dan industri global yang ciamik.

Bukit Algoritma menyerupai Silicon Valley

Ia menginginkan Bukit Algoritma dapat menjelma menjadi pusat penelitian dan pengembangan sumber daya manusia di masa depan.

Direktur Utama PT Amarta Karya, Nikolas Agung, menyebutkan bahwa pembangunan proyek ini diyakini dan diupayakan mampu meningkatkan kualitas ekonomi 4.0, peningkatan pendidikan dan penciptaan pusat riset untuk menampung ide anak bangsa, dan meningkatkan mutu sektor pariwisata di kawasan setempat.

Nikolas Agung pun menambahkan bahwasanya pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di Sukabumi dapat meningkatkan infrastruktur yang tangguh dan berkelanjutan sehingga diharapkan bisa mewujudkan pembangunan sumber daya manusia berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi yang kerap kali sering dibicarakan oleh Budiman Sudjatmiko.

Berdasarkan data dari Global Innovation Index pada tahun 2020, Indonesia berada pada peringkat ke-85 dari 131 negara. Komponen infrastrukturnya menduduki peringkat ke-80.

Kemudian peringkat innovation linkages atau jaringan inovasi antara lembaga penelitian dan perusahaan ada di peringkat ke-71.

Dengan adanya laporan di atas, pihak yang terlibat dalam merealisasikan proyek ini pun menginginkan Indonesia mulai memacu pedal gasnya dan sekaligus menanam harapan penuh supaya pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di Sukabumi dapat menjadi sentral bagi sektor teknologi dan industri 4.0.

 

Dan, segera meningkatkan daya saing yang memumpuni agar dapat bersaing dengan negara-negara seperti Cina dan Amerika Serikat dalam penerapan 4.0 ini.

Nah, terlepas dari itu semua, bagi saya sebagai masyarakat terdampak akan pembangunan megaproyek ini mengharapkan pengoptimalisasian anggarannya yang wow beserta sebisa mungkin tidak mencemari lingkungan sekitar, apalagi sampai bentrok dengan warga setempat.

 

Intinya mesti ramah lingkungan dan seminim mungkin tidak mengganggu ekosistem alam, dan tentunya dapat diterima oleh masyarakat awam setempat.

Terakhir, menurut saya, proyek ini memiliki tujuan dan target yang cukup bagus dan relevan di tengah torehan pretasi anak-anak bangsa yang kian mencuat dan lokalisasi sektor pariwisata yang berada di kawasan ekonomi khusus, namun pengakomodasian ide-idenya masih tersendat karena wadahnya yang masih minim.

 

Dengan adanya Bukit Algoritma yang akan menyerupai Silicon Valley sebagai pusat pengembangan teknologi dan industri 4.0 ini setidaknya bisa menunjang modernisasi dan industrialisasi yang dapat berdampak pada pertumbuhan ekonomi negara.

Bagaimana menurut kalian perihal megaproyek yang akan dijadikan tempat sebagai pengembangan SDM dan revolusi Teknologi-Industri 4.0 yang akan memakan biaya sebesar 18 triliun pada tahap awal pembangunannya ini?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *